Rabu, 26 Juli 2017

Senjamu, sendu buatku

Tepat di bibir senja kita pernah menjadi sepasang kekasih yang dicemburui oleh langit.
Menyulam jari, sembari mengikat janji-janji kecil perihal masa depan yang kini berakhir di garis kenang.
Begitu indah matamu kupandang kala itu, bahkan binarnya membuat senja ingin cepat-cepat menenggelamkan diri.
Senyummu menjadi cahaya disaat malam tiba, itu mengapa bertingkah sedikit kekanak-kanakan menjadi usahaku agar cahaya itu tetap menyala. Mengukir sabit di bibirmu, membuat perutmu sakit karena lelah tertawa.
Paling tidak masa itu tak akan terlupa, walau saat ini kau telah berbahagia.
Paling tidak nama kita pernah terukir di atas pasir yang sama, walau kini dengan kekasihmu kau berikrar untuk setia.
Paling tidak kita pernah kejar-kejaran bersama ombak, walau saat ini ia harus membawa segenap rasa yang masih tersisa, menariknya sampai jauh. Hilang, lenyap, dan berakhir pada tangis yang ia ciptakan dari awan yang berpadu, hingga aku kembali merindu saat hujan turun mengadu.

Selamat!
Di mataku, kau telah berhasil merubah rupa menjadi sendu.

MIHP

2 komentar:

  1. Bang saya pengen karya saya di bacain dong.. saya suka sama cara pembacaan dan suaranya

    BalasHapus
  2. Jalanmu adalah takdirku

    Dulu, kita bagai sepasang yg paling bahagia, romantis, setia, saling mengerti, saling memahami. Seperti tak ada lagi didunia orang paling serasi selain kita. Ya, tak ada.. Dunia nampak seperti dimensi anugerah yg tak berbatas, Segala masalah nampak mudah bagi kita. Hingga suatu akhirnya semua berubah, atas sikap yg tak peduli akan janji yg meng'atas namakan tuhan sekali pun. Ingkar.
    Semua trdengar sperti deru letusan gunung, hancur terbakar, luluh lantah duniaku, berserak dilebur pengkhianatan yg tercipta dibalik punggungku, kau ciptakan sayap pembunuh, kau rafalkan segala mantra pendusta, hingga seakan hampir tak ada lagi oksigen murni dari udara. Gila.. Ya, hampir gila menanggung semuanya.
    Dalam gumpalan angkara murka yg terkecap, raga mencoba menyusun puing berserak duri, walau banyak patahan yg hilang kubuang. Tanpa namamu, tanpa lukis wajahmu, tanpa kata KITA.. Setelah beberapa waktu raga kembali menyatu tanpamu, tawa kembali berbunga, dan ilusi pergi dari hati, kau datang menghampiri mengingatkan atas apa yg kau ucap sebagai janji, atas apa yg kau sebut kata hati, atas penderitaanku yg kau sebut jalanmu, dengan cambuk kau ucap Maaf! Seakan kata hatimu tau aku akan berdiri dan tak ada satupun indra tubuhmu yg rela akan itu. Maka kau kembali runtuhkan aku yg tertatih karena perih. Ku ucapkan terimakasih atas segala kehebatanmu. Dan Selamat atas kehancuranku, karena itulah tujuan naluri mu.

    Semoga kau sempat membaca semua tulisan ini, karena inilah cerita singkat atas keberhasilanmu.!
    16-09

    BalasHapus