Rabu, 26 Juli 2017

Senjamu, sendu buatku

Tepat di bibir senja kita pernah menjadi sepasang kekasih yang dicemburui oleh langit.
Menyulam jari, sembari mengikat janji-janji kecil perihal masa depan yang kini berakhir di garis kenang.
Begitu indah matamu kupandang kala itu, bahkan binarnya membuat senja ingin cepat-cepat menenggelamkan diri.
Senyummu menjadi cahaya disaat malam tiba, itu mengapa bertingkah sedikit kekanak-kanakan menjadi usahaku agar cahaya itu tetap menyala. Mengukir sabit di bibirmu, membuat perutmu sakit karena lelah tertawa.
Paling tidak masa itu tak akan terlupa, walau saat ini kau telah berbahagia.
Paling tidak nama kita pernah terukir di atas pasir yang sama, walau kini dengan kekasihmu kau berikrar untuk setia.
Paling tidak kita pernah kejar-kejaran bersama ombak, walau saat ini ia harus membawa segenap rasa yang masih tersisa, menariknya sampai jauh. Hilang, lenyap, dan berakhir pada tangis yang ia ciptakan dari awan yang berpadu, hingga aku kembali merindu saat hujan turun mengadu.

Selamat!
Di mataku, kau telah berhasil merubah rupa menjadi sendu.

MIHP

Rabu, 19 Juli 2017

Istirahatkan hatimu, tempa jiwamu

Ada kalanya hatimu memang butuh patah bahkan berkali-kali.
Jangan sok kuat, jangan sok tegar, terima saja, pura-pura bahagia itu berat.
Jangan cari hati lain sebagai pelampiasan, menjadikan senyuman seseorang sebagai alasan agar mantan menyesal telah meninggalkanmu. Ada baiknya jika kau sendiri dulu, menata hidupmu kembali, menyusun mimpi-mimpi lagi.
Sibukkan diri untuk menggali potensimu lebih dalam, kerjakan apa yang kamu senangi, selama tak merugikan bagimu dan juga orang lain. Pantaskan dirimu untuk dia yang telah tercatat namanya di lauhul mahfudz.
Tak perlu terburu-buru ingin mengisi kekosongan hati, sebab kamu hanya akan membandingkannya dengan masalalumu.
Perlu kamu tahu pelampiasan dan pengalihan itu berbeda.

Sabtu, 15 Juli 2017

Sekeping kenang

Untuk sementara biarlah begini adanya.
Diriku sibuk dengan sepi, sedangkan kamu sibuk bersama kekasih barumu yg kerap kali mengunggah foto-foto selfie
Cukup kupandangi saja senyumanmu dari kejauhan, betapa manisnya ternyata kau setelah menjadi mantan. Ditambah lagi yang kau pamer disetiap unggahanmu itu adalah pose-pose kesukaanmu saat bersamaku dahulu. Kau tahu betul angle terbaik untuk berfoto, tak peduli kekasihmu kebagian setengah frame atau tidak, yang terpenting kau tampil sempurna dalam potret-potret itu. Alismu subur layaknya tanaman yang telah dipupuk sejak dulu, matamu seakan sabit yang sedang murung, namun itu lucu, apalagi saat kau tertawa, sabit itu perlahan menenggelamkan diri. Hidungmu yang selalu mendoktrin pikiranku bahwa kau adalah kerjasama apik antara Eropa dan Asia yang pernah kulihat. Bibirmu mungil membuatnya bulat sempurna ketika kau mengucapkan huruf "o". Ditambah lagi pipimu yang berlesung layaknya pusaran tempat siapa saja yang melihatnya akan berjatuh pandang dan seketika itu juga akan tertarik kepadamu. Semua itu lihai kau mainkan dalam layar kaca, persis saat kita masih merajai aku dan kamu.
Ada hal lucu yang kulihat dari beberapa foto yang kau unggah. Kekasihmu tak seluwes aku dalam hal berselfie-ria. Disetiap jepretan kau sibuk menggonta-ganti gaya, sedangkan dia mematung seakan kaku tak berdaya, hanya beberapa foto yang aku dapati matanya sedang mengganti pandang.
Tapi tenang saja, kau selalu kudoakan agar nyaman bersamanya.
Paling tidak dia tak akan mengacak adut rambutmu sebelum berfoto, layaknya yang selalu kulakukan dahulu, membuatmu tak henti menggerutu, namun kembali tersenyum ketika kamera telah menemui titik fokusnya
Paling tidak dia tak suka mencubiti pipimu saat semua pose telah khatam kau peragakan.
Paling tidak dia tak senang menjailimu, menyuruhmu menutup mata dengan dalih pose epik namun ternyata kau hanya sedang divideo bukan difoto.
Ahh sudahlah, aku tak ingin membuka lebih banyak lagi perihal kisah kita.
Sebab aku percaya kita masih sama memendam rasa, tidak, tidak. semoga aku salah mengira. Cintai saja kekasihmu, yang sudah jelas berkeyakinan sama denganmu
Karena kita tak akan bisa bersama jika satu diantaranya tak berpindah agama.
Tak usah kau risau perihalku,
Saat ini biarlah aku menjadikan air mata sebagai tinta, lalu menuliskan semua harap dalam doa.

MIHP
16.07.17

Buku "KAMU"



RINDU

Bersamaku, dia hadir menyerupai wajahmu

Dia tersenyum dengan senyumanmu

Dia mengharumi tubuhnya dengan wangimu

Dia bersolek indah dengan keindahanmu

Percayalah, saat ini aku sungguh membencinya

Andi aku telah mampu tak ber_andai

Maka takkan lagi kujauhkan kau dariku


Hingga bersamamu, rinduku tak lagi bernama rindu

Tanah Impian

Kubiarkan kisah kita merajai pikiranku kali ini.

Bukan karena tak bisa merelakanmu

Melainkan aku hanya ingin membiarkan

Diriku hanyut dalam kenangan bahagia kala itu.

Ditanah ini, kita pernah melangkah beriringan menuju satu impian.

Menatap satu senja perlahan lingsir dan meninggalkan sore.

Disini, di kota ini, kau kutemui sebagai satu-satunya bahagia.

Namun kini harus kurelakan kepergiannya.

Di kota ini awal kita memegang erat satu janji.

Walau pada akhirnya kita harus melepaskan ke lain tangan.

Terima kasih atas segala kenangan yang telah kau cipta


Maaf jika saat ini bukan hatimu tempatku menjatuhkan rasa.