Tepat di bibir senja kita pernah menjadi sepasang kekasih yang dicemburui oleh langit.
Menyulam jari, sembari mengikat janji-janji kecil perihal masa depan yang kini berakhir di garis kenang.
Begitu indah matamu kupandang kala itu, bahkan binarnya membuat senja ingin cepat-cepat menenggelamkan diri.
Senyummu menjadi cahaya disaat malam tiba, itu mengapa bertingkah sedikit kekanak-kanakan menjadi usahaku agar cahaya itu tetap menyala. Mengukir sabit di bibirmu, membuat perutmu sakit karena lelah tertawa.
Paling tidak masa itu tak akan terlupa, walau saat ini kau telah berbahagia.
Paling tidak nama kita pernah terukir di atas pasir yang sama, walau kini dengan kekasihmu kau berikrar untuk setia.
Paling tidak kita pernah kejar-kejaran bersama ombak, walau saat ini ia harus membawa segenap rasa yang masih tersisa, menariknya sampai jauh. Hilang, lenyap, dan berakhir pada tangis yang ia ciptakan dari awan yang berpadu, hingga aku kembali merindu saat hujan turun mengadu.
Selamat!
Di mataku, kau telah berhasil merubah rupa menjadi sendu.
MIHP

